Perbedaan Google Earth dan Teori 2050 Earth
Perbedaan Google Earth dan Teori 2050 Earth

Perbedaan Google Earth dan Teori 2050 Earth

Thefilosofi.com – Halo sobat penghuni planet Bumi, bagaimana nih kabarnya, baik-baik saja tentunya bukan, nah pada kesempatan kali ini admin akan membahas mengenai Perbedaan Google Earth dan Teori 2050 Earth.

Sebuah pemahaman yang perlu diluruskan mengenai google Earth dan 2050 Earth, karena hal ini terkadang membuat bingung sebagai pengguna internet.

Berbicara Googke Earth pastinya sobat juga sudah pernah mendengarnya, bahkan mungkin sudah mengetahuinya, jika memang belum tahu apa itu google Earth kita bahas secara singkat sebelum lanjut ke hal mengenai 2050 Earth.

Google Earth

Google Earth merupakan sebuah aplikasi Globe virtual atau biasa disebut Earth Viewer yang mana aplikasi tersebut di buat oleh Keyhole, Inc.

Program Aplikasi ini mampu memetakan bumi dari superimposisi gambar yang dikumpulkan dari pemetaan satelit, fotografi udara serta globe GIS 3D.

Aplikasi google Eart sendiri mempunyai tiga jenis lisensi yang berbeda, nah untuk mengetahui lisensi apa saja simak penjelasan berikut ini :

  • Google Earth
    Sebuah versi gratis dengan memiliki kemampuan terbatas
  • Google Earth Plus
    Aplikasi yang serupa dengan Google Earth, namun Google Earth pro memiliki fitur tambahan. untuk menggunakan aplikasi ini dikenakan biaya sebesar $20 per tahun.
  • Google Earth Pro
    Aplikasi google Earth pro ini biasanya digunakan untuk komersial dengan biaya yang harus dibayar sebesar $400 pertahun.

Program aplikasi Google Erath sendiri dikenal sebagai Earth Viewer. Google Earth sendiri sebuah nama baru setelah dikembangkan oleh Keyhole, Inc, sebuah perusahaan yang di ambil alih oleh Google pada tahu 2004, sehingga kini memiliki nama sebagai aplikasi Google earth yang diresmikan pada tahun 2005.

Google Earth sendiri kini telah memiliki beragam varian seperti google yang bisa digunakan di komputer dan android.

2050 Earth

2050 earth, merupakan sebuah teori mengenai kelangsungan hidup manusia yang diprediksi tidak akan mampu bertahan di akhir tahun 2050.

Namun prediksi atau teori tersebut bukan berarti tanpa alasan, karena beberapa peniliti telah menemukan bukti-bukti yang dapat mengancam kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini.

Kabar terbaru telah memperingatkan akan resiko yang membahayakan eksistensi manusia dalam beberapa dekade mendatang akibat krisis iklim.

Lanjut laporan tersebut menjelaskan, mengenai peradaban manusia yang mungkin bisa berakhir dalam tiga dekade kedepan jika tidak ada aksi yang dilakukan untuk mencegahnya.

Kabar yang dilaporkan oleh Breakthrough National Center for Climate Restoration ini menggaris bawahi mengenai sekenario kepunahan di mana manusia tidak mampu untuk bertahan hidup pada akhir 2050.

Para peniliti berpendapat bahwa manusia di muka bumi yang populasinya mencapai 8 miliar orang, kini tengah merasakan iklim yang tidak pernah dirasakan sebelumnya.

Dengan demikian para ilmuwan melakukan penelitian mengenai “sekenario 2050 Earth” di mana manusia akan merasakan kehancuran dan tidak mampu bertahan di akhir tahun 2050.

Berikut rincian sebuah penelitian ilmuwan mengenai teori 2050 Earth.

Baca Juga :

1 . 2020-2030

Gagalnya kepemimpinan dunia bertindak sesuai dengan perjanjian Paris. Mereka gagal untuk menjaga dari kenaikan suhu. Sebuah studi menyatakan bahwa kadar karbondioksida telah mencapai 437 ppm-angka yang belum pernah terjadi dalam 20 juta tahun terakhir. Kini Planet Bumi sudah menghangat sekitar 1.6°C (2.8°F).

2 . 2030-2050

Sebuah puncak emisi dapat terjadi pada tahun 2030, kemudian akan berkurang setelahnya. Meski begitu, umpan balik siklus karbon serta penggunaan bahan bakar fosil yang berkelanjutan diperkirakan akan membuat suhu naik menjadi 3°C.

3 . 2050

Titik kritis diperkirakan akan terjadi di tahun 2050. dimana lapisan es di Greenland dan Antartika Barat dengan pemanasan 2°C.

Pada tahap ini dampak terhadap manusia sudah mencapai puncak kepunahan. sebanyak 55% populasi global akan menjadi subjel dari panas yang sangat mematikan selama 20 hari dalam kondisi itu manusia akan sulit untuk bertahan.

Dengan kondisi ini cuaca ekstrim akan terjadi diseluruh negara, Amerika Utara akan mengalami kebakaran hutan, kekeringan serta gelombang panas.

Tidak adanya musim hujan di Tiongkok, sehingga sungai-sungai besar di Asia akan mengalami kekeringan. Sementara itu curah hujan di Amerika Tengah turun hingga setengahnya.

Kondisi inilah yang akan menyebabkan produksi pangan di seluruh dunia akan menurun. Sehingga diperkirakan sejumlah negara akan mengalami kris pangan yang berujung terhadap terlantarnya populasi manusia di muka bumi.

Akhir Kata

Demikian pemaparan singkat admin mengenai Perbedaan Google Earth dan Teori 2050 Earth. Sebagai penduduk Bumi yang baik, semoga kita senantiasa bisa menjaga Bumi ini.

Informasi ter baru dan menarik, bisa sobat dapatkan dibawah ini 👇 👇 👇

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *